Social Icons

Home

PESAN BUKU TERORIS VERSUS GLOBALISASI

Selamat Datang di Blog A SAFRIL

Perang Pengaruh AS vs Tiongkok di Asia Tenggara

US-ASEAN Summit yang digagas Amerika Serikat dan dilaksanakan di California pada 15-16 Februari 2016 menyimbolkan perlawanan negara adidaya ini atas meningkatnya dominasi Tiongkok di Asia Tenggara. Jauh sebelum konferensi tingkat tinggi itu diadakan, Tiongkok telah menginisiasi terselenggaranya East Asian Summit yang merupakan forum dialog negara-negara ASEAN+6 (Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, India, Australia, Selandia Baru). Sementara AS masih berupaya membentuk Trans-Pacific Partnership (TPP) yang baru saja ditandatangani pada 4 Februari lalu di Auckland, Tiongkok telah beberapa langkah lebih maju dengan diimplementasikannya ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) sejak 2010.... Perlahan, tapi pasti, pengaruh Tiongkok di Asia Tenggara semakin terasa lima tahun terakhir. Seiring dengan diberlakukannya ACFTA, komoditas Tiongkok merajai pasar ASEAN. Dimana-mana, kita dapat dengan mudah menemukan produk “made in China” di pasaran. Meskipun harganya murah, tetapi kualitas produk itu tidak kalah dengan komoditas negara-negara lain. Serbuan tenaga kerja Tiongkok ke pasar ASEAN pun semakin tak terelakkan sejalan dengan meningkatnya investasi Negeri Tirai Bambu di kawasan ini. Tiongkok tampak jeli melihat peluang di Asia Tenggara. Sejak awal 2000-an, tatkala AS sibuk berperang melawan teroris di Timur Tengah, Tiongkok semakin melebarkan ekspansi ekonominya ke selatan. Akibatnya, nilai ekspor Tiongkok ke ASEAN melonjak dari USD 117,7 miliar pada 2010 menjadi USD 266,5 miliar pada 2015. Tidak mengherankan jika Tiongkok kini menjadi mitra dagang terbesar ASEAN, mengungguli AS yang berada di posisi keempat. Hal itulah yang membuat AS kelabakan sehingga berniat merangkul kembali negara-negara ASEAN demi kelanggengan dominasinya di kawasan ini. Karena itu, bersama 11 negara di kawasan Asia Pasifik, termasuk di antaranya empat negara ASEAN (Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Vietnam), AS membentuk TPP untuk menandingi Tiongkok. Jika tuntas diratifikasi dalam waktu dua tahun, TPP akan menjadi blok perdagangan terbesar yang menguasai 40 persen ekonomi dunia. Populasinya yang mencapai 800 juta jiwa tentu merupakan pasar amat menggiurkan bagi AS, jauh melebihi pasar tunggal Uni Eropa yang hanya separuhnya. Perkembangan geoekonomi kontemporer tersebut memunculkan model keseimbangan baru di Asia Tenggara. Belum pernah terjadi dalam sejarah, dua kekuatan terbesar dunia hadir secara bersamaan menancapkan pengaruhnya di kawasan ini. Perang pengaruh AS versus Tiongkok membuat negara-negara ASEAN dihadapkan pada dua pilihan dilematis. Di satu sisi, Negeri Panda yang sedang bangkit menawarkan investasi dengan tenaga kerja murah sekaligus komoditas perdagangan kompetitif. Di sisi lain, Paman Sam yang sedang berupaya mempertahankan supremasinya menawarkan tidak hanya paket ekonomi, tetapi juga stabilitas keamanan. Karena itu, dalam beberapa hal, masa depan Asia Tenggara akan dipengaruhi oleh dinamika hubungan AS dan Tiongkok. Sebagai negara terbesar dan primus inter pares di ASEAN, Indonesia harus memosisikan diri secara strategis agar tidak teseret permainan kedua raksasa global tersebut. Hal itu bukan demi kepentingan nasional semata, melainkan juga demi kepentingan regional. Inilah tantangan geopolitik yang bakal dihadapi Indonesia di masa depan. Strategi Indonesia Indonesia harus memahami hasrat AS dan Tiongkok untuk memperebutkan pengaruh di Asia Tenggara menjadi semakin kuat akhir-akhir ini. Stabilitas kawasan yang kondusif dan dinamis di tengah pasar sebesar 600 juta jiwa sungguh amat memikat kedua negara itu. Maka, dapat dipastikan AS dan Tiongkok akan mengeluarkan semua jurusnya demi memenangkan pertarungan di pasar potensial ini. Karena itu, Indonesia tidak boleh tinggal diam hanya menonton pertempuran dua adidaya global di kawasan terpenting dalam lingkungan internasionalnya. Sebagai lingkaran konsentris pertama politik luar negeri Indonesia, Asia Tenggara merupakan kawasan paling strategis bagi negara kita. Secara historis, Indonesia memiliki peran amat menonjol dalam menjaga stabilitas kawasan. Pengaruhnya yang kuat menjadikan Indonesia mempunyai peran kepemimpinan regional sehingga Sang Garuda sesungguhnya berkewajiban mencegah kawasan Asia Tenggara diacak-acak oleh ajang perebutan pengaruh Sang Elang versus Sang Naga. Karena itu, Indonesia harus lihai dalam menjaga keseimbangan relasinya dengan AS dan Tiongkok. Bagaimanapun, harus diakui, AS dan Tiongkok adalah dua kekuatan ekonomi terbesar dunia. Menolak kehadiran keduanya di Asia Tenggara akan menjadi bumerang bagi Indonesia karena akan kehilangan peluang kerjasama ekonomi. Memihak salah satu dan menolak yang lain juga bukanlah pilihan strategis karena bertentangan dengan prinsip bebas-aktif. Yang harus dilakukan adalah tetap menjalin relasi secara strategis dengan keduanya seraya tetap mengedepankan kepentingan nasional. Meski demikian, Indonesia juga harus menyadari walaupun tetap bertengger sebagai kekuatan ekonomi terbesar dunia, kedua negara sesungguhnya sedang mengalami pelambatan ekonomi. Pada 2015, pertumbuhan ekonomi Tiongkok mencapai 6,9 persen, menurun dari 7,3 persen setahun sebelumnya dan terendah dalam 25 tahun terakhir. Pada periode yang sama, pertumbuhan ekonomi AS menurun dari 2,4 persen (2014) menjadi 2,1 persen (2015). Bisa jadi, alasan itulah yang menndorong AS dan Tiongkok bergerak kian agresif di Asia Tenggara. Maka, jika tidak ingin terjangkit virus pelambatan ekonomi, Indonesia harus mengalkulasi terlebih dahulu untung ruginya bergabung dalam blok yang ditawarkan masing-masing pihak. Baca Selengkapnya...