Social Icons

Perang Retorika Trump Vs. Jong-Un


Jawa Pos, 29 September 2017

Ketika para pemimpin dunia menyampaikan pesan perdamaian dalam sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru melontarkan ancaman terhadap pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Dalam pidatonya di PBB, Selasa (19/9), Trump menyebut Jong-un sebagai “rocket man” dan mengancam akan menghancurkan Korut secara total. Tiga hari kemudian, Jumat (22/9), Trump melanjutkan ancaman melalui kicauannya di Twitter dengan menyatakan: “Kim Jong Un of North Korea, who is obviously, a madman who doesn’t mind starving or killing his people, will be tested like never before.”

Sebelumnya, pada 8 Agustus lalu, Trump memperingatkan Korut agar tidak mengancam AS jika tidak ingin dibalas dengan “api dan kemarahan” yang tidak pernah dilihat dunia. Pernyataan keras Trump itu mencuat seiring dengan terbitnya laporan Badan Intelijen Pertahanan AS bahwa Korut telah berhasil mengembangkan hulu ledak nuklir yang bisa dimasukkan ke dalam rudal balistik antarbenua. Merespons ancaman Trump, Korut berencana menembakkan rudal balistik berhulu ledak nuklir ke Guam, wilayah paling barat AS di Samudera Pasifik yang berjarak sekitar 3.400 kilometer dari Pyongyang.

Rentetan pernyataan keras Trump merupakan reaksi dari serangkaian uji coba rudal yang telah dilancarkan Korut. Sejak berkuasa pada Desember 2011, Jong-un bertekad mengembangkan senjata nuklir jauh melebihi yang dikembangkan pendahulunya yang juga ayahnya, Kim Jong-il. Demi misi itu, sepanjang enam tahun kepemimpinan Jong-un, Korut telah melesakkan rudal sebanyak 84 kali, 22 kali di antaranya terjadi setelah Trump dilantik menjadi presiden AS awal tahun ini. Menurut catatan Nuclear Threat Initiative (NTI) dan Center for Non-Proliferation Studies (CNS), Jong-un telah melakukan uji coba rudal lima kali lebih banyak daripada yang pernah dilakukan Jong-il selama berkuasa pada 1994-2011.

Tidak mengherankan jika ketegangan di Semenanjung Korea terus meningkat di masa kekuasaan Jong-un. Jepang dan Korea Selatan merupakan dua negara tetangga Korut di Asia Timur yang paling terancam. Meskipun demikian, respons pemimpin kedua negara tersebut tergolong lunak dibandingkan Trump. Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe menyatakan waktu untuk berdialog dengan Korut telah berakhir dan kini saatnya mengimplementasikan sanksi. Sementara itu, Presiden Korea Selatan Moon Jae-in berjanji membantu Korut berhubungan baik kembali dengan komunitas internasional jika Jong-un menghentikan kebijakan nuklirnya.

Di pihak lain, Tiongkok cenderung mendorong Korut bernegosiasi untuk menyelesaikan masalah nuklir secara damai. Pembatasan ekspor minyak dan penghentian impor tekstil merupakan bagian dari upaya Beijing mendesak Pyongyang ke meja perundingan. Padahal, Trump berulang kali mendesak Presiden Xi Jinping untuk menekan Jong-un secara lebih keras, tetapi tidak pernah digubris. Hal itulah yang membuat Trump kecewa hingga akhirnya memutuskan mengancam Jong-un secara langsung.

Persoalannya, serangan verbal Trump terhadap sosok personal Jong-un bakal berakibat kontraproduktif bagi penyelesaian masalah nuklir Korut. Menurut John Park, pakar Korea dari Harvard Kennedy School, penghinaan Trump terhadap Jong-un di panggung PBB telah meredupkan peluang membatasi program nuklir Korut (The Los Angeles Times, 23/9/2017).
Jong-un terlahir dari sebuah dinasti Kim Il-sung yang otoriter dan menempatkan kebanggaan atas diri pribadi di atas segalanya. Bagi dinasti pendiri Korut ini, “negara adalah saya” sehingga tampuk kepemimpinan Korut harus digilir secara turun-temurun dalam keluarga mereka. Serangan personal Trump telah menginjak-injak harga diri Jong-un sekaligus kehormatan Korut. Untuk menjaga martabat negaranya, Jong-un merasa perlu membalas serangan Trump secara lebih kejam.

Karena itu, setelah dilabeli Trump sebagai “rocket man”, Jong-un balik menghina Trump sebagai “dotard” atau orang tua gila yang tidak tahu diri. Dalam pernyataan yang disiarkan Korean Central News Agency (KCNA), Kamis (21/9), Jong-un mengancam akan menjinakkan Trump dengan api. Dua hari berselang, Sabtu (23/9), Menteri Luar Negeri Korut Ri Yong-ho mengatakan bahwa negaranya akan melakukan uji coba bom hidrogen di Samudera Pasifik yang berpotensi menjadi ledakan termonuklir terbesar di kawasan ini. Pada hari yang sama, ribuan warga Korut turun ke jalan untuk berunjuk rasa anti-AS di Kim Il-sung Square di Pyongyang (Jawa Pos, 25/9/2017).

Meskipun situasi tampaknya mengkhawatirkan, tetapi konflik lebih besar kemungkinan tidak akan terjadi. Terlalu besar ongkos sosial ekonomi yang harus dikeluarkan jika konflik militer pecah. Semua negara di Asia Timur berkepentingan memelihara keamanan kawasan demi menjaga stabilitas ekonomi masing-masing. Situasi status quo itu pula yang ingin dipertahankan Trump dan Jong-un. Perang retorika di antara mereka sesungguhnya hanya strategi untuk memainkan nuansa keseimbangan kekuatan. Korut membutuhkan nuklir untuk menunjukkan dirinya kuat berhadapan dengan AS. Hal itulah yang coba digerus Trump dengan retorika ancaman personalnya terhadap Jong-un.

No comments:

Post a Comment